www.maestroradio.com

92,5 Maestro FM

Pada mulanya adalah Gito Nugroho. Gito Nugroho memulai hobby elektroniknya. Dia mempelajari prinsip-prinsip penguat suara dan pesawat pemancar. Usahanya ini dilakukan dengan belajar sendiri, memakai alat-alat dan onderdil bekas. Pesawat pemancar kecil sederhana yang pertama dihasilkannya dengan menggunakan kawat penjemur pakaian, memberikan kekuatan pancar sejauh kurang lebih 200 meter. Hal ini sangat menyukakan hatinya dan memberi semangat untuk melanjutkan percobaannya ke tahap-tahap berikutnya. Dan itu terjadi, pada medio 1968.

 
Pada akhir 1968, dengan pesawat pemancar yang disempurnakan, dan dengan antena yang masih sederhana, percobaan siaran dimulai. Bertempat di Jl. Kacapiring No.9.
 
Piringan-piringan hitam lama dalam jumlah terbatas, merupakan sumber yang berharga dalam melangsungkan siaran-siaran percobaan. Telepon mulai berdering, pertanda siaran tertangkap dengan baik. Dan nama Maestro pertama kali dicetuskan secara iseng oleh Saudara Yanto.
 
Agar tidak mengganggu ketenangan keluarga Sutisna, kegiatan ini pindah ke Jl. Kacapiring 12 paviliun. Kawat antena dibentangkan di antara dua tiang bambu, dengan jarak kurang lebih 70 meter. Ruang untuk siaran percobaan dibenahi dan diisi perabotan sederhana, meja, kursi jok, dengan meminjam kiri kanan. Selebihnya, usaha ini bersumber dari uang saku bersama dan semangat yang besar, berkat dukungan dan dorongan para tetangga. Bapak Irawan, selain mengizinkan pemakaian halaman rumahnya bagi tiang antena dan pemakaian pesawat telepon, juga mensponsori usaha ini dengan pesawat pemutar piringan hitam. 
 
Untuk mulai mengudara, diperlukan izin, dan izin siaran diperoleh dari Kepolisian–Biro khusus. Syarat untuk memperoleh izin, adalah satu di antaranya, harus ada penanggung jawab. Maka, John Liem diangkat menjadi penanggung jawab, pada saat itu. 
 
Pada 4 Januari 1969, siaran lagu-lagu dimulai dengan nama panggilan Maestro secara teratur. Acara siaran diprogram dengan tetap. Waktu istirahat digunakan untuk perbaikan teknis pemancar atau mutu siaran. Gito Nugroho terus menerus memonitor penangkapan siaran dengan cermat. Ini dilakukan dengan pergi ke berbagai sudut kota, bersama pesawat radionya.
 
Suatu saat, Saudara John Liem pindah ke Jakarta oleh karena tugasnya. Tono Ibrahim kemudian menjadi penanggung jawab yang baru. Pada waktu itulah, diambil inisiatif untuk menertibkan cara-cara siaran, menggariskan sopan santun udara, pelayanan pendengar, dan menanggapi respons pendengar. Jenis musik diperluas dengan musik instrumental, musik tenang, musik pop tempo dulu, musik klasik, dan seriosa. Ruang pendidikan dicetuskan, khusus untuk konsumsi kaum muda.
 
Tanggapan pendengar bertambah dan surat mulai mengalir, menyambut hangat kehadiran Maestro. Musik tenang dan musk klasik menjadi program khas Maestro. Pada waktu itu, merupakan satu-satunya radio yang menghidangkan jenis musik ini setiap hari, dengan prosentase waktu yang besar. Jangkauan tingkat usia pendengar meluas kepada golongan dewasa dan lanjut usia. Studio dibangun. Ruang siaran dipisah dari ruang tamu, pesawat telepon diperolah, peralatan sedikit demi sedikit ditingkatkan. Hampir semuanya barang bekas, terutama piringan hitamnya. Antik dan klasik, namun masih cukup memadai. Maestro menjadi kesayangan banyak orang dan mendapat dukungan besar.
 
Tahun 1971, keluar peraturan pemerintah yang mewajibkan radio siaran berbentuk badan hukum atau badan usaha. Maestro sebagai hobby berhenti di sini, dan berubah bentuk menjadi suatu perseroan terbatas. Ini menjadi satu tonggak sejarah yang baru. Siaran harus dikelola lebih profesional. Segala sesuatunya harus profesional.
 
Maestro bersyukur pada Tuhan karena hikmat yang diberikan-Nya kepada Sdr. Tono Ibrahim sebagai pendiri Radio Maestro. Tono Ibrahim tak pernah menyerah mencoba mengembangkan Maestro ke arah yang lebih profesional. Tentu tidak mudah untuk mengubah atau menanamkan paradigma yang baru; tadinya hanya sekedar hobby, tapi sekarang harus dikelola menjadi radio yang "segala sesuatunya harus jauh lebih serius." membutuhkan waktu dan pengorbanan. Hal itulah yang dilakukan oleh Tono Ibrahim sebagai founder, yang telah Tuhan pilih sendiri sesuai dengan kehendak-Nya
 
Tono Ibrahim pindah ke Amerika Serikat, maka tongkat gembala diserahkan kepada Budiono Ibrahim. Dan seperti Daud yang masih muda dan kemerah-merahan, itulah gambaran orang muda yang diserahi tanggung jawab ini. Seperti Daud yang mengalami tantangan berat pada masanya, orang muda kita pun mengalami tantangan dan masa-masa yang sulit. Dari pengalaman yang sangat kurang sekali sampai keadaan Maestro yang berada di titik terendah, ini yang harus dia jawab. Masa-masa itu adalah masa-masa yang pahit, tapi menjadi satu kenangan yang manis.
 
Ketika itu, keuangan defisit besar. Tanpa pengalaman manajemen dan harus bertanggung jawab untuk belasan jiwa yang bergantung kepada Maestro untuk asap dapurnya, maka pontang-pantinglah Maestro menutup segala pendanaannya.
 
Kesulitan yang ada membuat satu keputusan kokoh. Apapun, yang dihadapi, Maestro harus tetap jalan. Ternyata, seperti bangsa yang dituntun Allah di padang gurun perjalanan mereka, Maestro pun mengalami itu. Masalah demi masalah diselesaikan dengan baik, menurut versi Dia. Tapi itu bukan sekejap. Ada bilangan tahun yang dapat dihitung. Dalam Allah tidak ada yang instan, semuanya harus melalui proses. Proses demi proses dilalui Maestro, sampai seperti sekarang.
 
Untuk meningkatkan pelayanan dan mutu siaran Radio Maestro, secara perlahan-lahan dan pasti, dengan pertolongan Tuhan, pada tanggal 15 April 1997, mengudara pada jalur FM. Sampai dengan saat ini, kami masih menyempurnakan kualitas siaran agar dapat diterima oleh setiap pendengar dengan baik.

VIDEO UPDATE

Loading ...